Akhir-akhir ini, hari-hariku terlalu banyak hilang untuk permenungan demi permenungan yang secara spontan selalu muncul setiap kali aku merebahkan badanku di atas kasurku dan menatap ke arah langit-langit kamarku. Nggak tahu, waktuku sebenarnya harus kumanfaatkan untuk mengerjakan yang lain, tapi kegiatan ini senantiasa menyita semua perhatianku.
Pada waktu itu, seolah semua peristiwa yang telah kualami di dalam hidupku melintas begitu saja di depan mata, bagaikan sedang menonton kembali film lama yang diputar tanpa suara, bagaikan orang yang berada di ambang kematian.
Ada sebuah lintasan kesadaran yang tersirat setiap kali kejadian itu berlangsung. Sang lintasan itu membimbingku untuk kembali menjelajahi momen-monmen itu dan membandingkannya dengan kehidupanku sekarang. Sungguh, sangat berbeda! Sebuah keputusan yang kubuat di masa lalu, ternyata mau tidak mau akan mempengaruhi jalan yang kubuat di masa ini. Dan dengan bodohnya, aku memang tidak pernah memikirkan pilihan yang senantiasa kubuat. Aku hanya menyerahkannya kepada aliran waktu dan kesadaran yang ada. Begitulah aku selama ini terbuai dalam aliran lembut sang sungai waktu, membawaku entah kemana, hanya dituntun oleh instingku setiap kali harus mengambil sebuah keputusan.
Cukup banyak perubahan yang kualami ternyata. DAn selama ini aku adalah orang yang paling kekeuh untuk berkata bahwa aku tidak banyak berubah, tapi dunialah yang berubah. Nyatanya, semua itu salah! Dunia berubah, akupun berubah, tapi ke arah lain yang berlawanan dengan perkembangan dunia ini!
Signifikan, refleksi yang kudapat itu. Dalam beberapa hal, aku menyadari, bahwa apapun yang kupilih itu tidak bisa dirubah lagi. Mengutip kata-kata mas Ichwan (kakak kelas waktu SMP), "Nasi memang sudah menjadi bubur, tetapi apakah itu tidak lagi berharga? Tambahilah dengan abon, daging ayam, telur, maka jadilah sebuah bubur yang tidak kalah enak dengan nasi!"
PSetiap pilihan yang kita buat di dalam hidup mungkin memang bukan yang terbaik, tapi mau tidak mau kita harus tetap menjalaninya dengan menempuh segala resiko yang mungkin terjadi. Hanya dalam saat seperti itu, maka kemampuan adaptabilitas manusia akan dapat terbukti! Mungkin menjalani seperti itu sangat berat, tapi tidaklah mustahil. Justru di dalam derita, manusia akan membaja. (D'oh! Kok jadi kaya Bu Lani gini?????)
Di sisi lain, dari refleksi-refleksi tersebut, aku menyadari adanya eksistensi dari pengaruh psikologis. Mungkin memang subyektif, tapi setidaknya aku mampu mendiagnosa diriku sendiri dari efek-efek dan trauma psikologis yang terjadi. Tentang penyebab kenapa diriku sendiri berubah menjadi seorang pangeran kodok, sementara dulu aku memiliki citra sebagai seorang Prince Charming... (Ini bukan bullshit, tanya aja semua orang!)
Bagaimana aku pernah mengambil keputusan yang sangat keliru dan sangat kusesali untuk menjalin sebuah hubungan persahabatan ketika aku masih SMP! Bagaimana kejadian itu terus menerus menghantuiku, dan penyesalan akan kejadian tersebut masih tetap mengakar di dalam hatiku, walaupun aku sudah meminta maaf dan dimaafkan oleh Opa. Kejadian itu seolah menjadi initiation path untukku, yang mewarnai suasana batinku, yang bahkan membuatku berpikir bahwa aku sama sekali tidak layak menghadiri pemakaman opaku. Bahkan ketika kami harus melarung abunya, aku merasa tidak layak untuk membawa abunya ke pesisir. Ironisnya,dalam perjalanan pulang ke rumah, adikku sendiri yang dulu membelaku malah membuka masalah itu di depan keluargaku. Inilah yang membuatku mulai merasa bahwa aku sama sekali tidak berharga! Ouch, I wish I could turn back the time!
Tentang bullying dan hinaan yang dilontarkan teman-temanku kepadaku, bahwa aku bukanlah seorang lelaki sejati hanya karena aku tidak bisa bermain sepakbola dan tidak menyukai musik rock...... Mungkin aku memang sudah lepas dari hinaan itu ketika aku berpisah dengan mereka, akan tetapi aku sama sekali
tidak bisa lepas secara psikis darinya. Hinaan itu membentuk sebuah konsep di dalam diriku, mengenai bagaimana aku harus membentuk diriku sendiri.... Dan sepertinya, ini berlanjut pada tragedi yang lebih besar lagi. SHIT!!!!
Masih banyak lagi, dan semakin banyak keanehan di dalam diriku yang entah mengapa semakin jelas lagi juntrungannya! Gosh....... Aku semakin bingung dengan diriku sendiri!!!!!!!
Mockingbird, the man behind the mastermind. Now you'll see what's inside mockingbird's brain!
Friday, March 30, 2007
Being a Man............
Being a man.... I think that is sentence served as the life principles of almost every man in the world. And, as a man, it also applies to me. And in the end, that principle is the one forming me the way I am, now!
This reflection is made when one of my friend, Dee, saw my boyhood picture, and give comment, "You were sweeter when you were a boy. When I see this pic, I instantly imagine a handsome young man with six pack belly! Unfortunately, you don't know how to take care of yourself!"
Not really surprised, for I have heard this kind of comment since long ago. But I don't know why, after that I started to recall my past, when I was a boy, handsome, cuter than now, with recent style (yeah, even hairstyle. I still remember when all the children and my friends started to imitate my hairstyle, bross and mandarin.....).
And now? I ended up like this. Being a man of mess.......
This point brings back another memory, when my friends in junior high called me sissy, because I can't even play football or having any interest in both football and rock music. Well, bullying sure have its own effect, destructive effect.
From that moment, I only wish to be considered as a man by them. And thus, the sentence, Being a man rooted deep down in my mind. I started to form an ideal man is the one with all their mess, far from style, lad, not using any beauty product, rough, frank, rude, and all those stuffs.
It was the beginning of my transformation, where I swore not to touch any beauty cosmetics, such as facial foam, facial scrub, anti acne, lotion, hand body, and even perfume!!!!! For me, it was not a man's thing!!!!! No way man, I wanna be a man, not a sissy.
But then, the world paradigm shifted. People started to recognize a metrosexual lifestyle, and thus it became widespread culture! Men started to take care of their own body! Body care products for men are everywhere. And yet, I still in my own paradigm, hence I was quite different from others.
And this started all my torture...........................
This reflection is made when one of my friend, Dee, saw my boyhood picture, and give comment, "You were sweeter when you were a boy. When I see this pic, I instantly imagine a handsome young man with six pack belly! Unfortunately, you don't know how to take care of yourself!"
Not really surprised, for I have heard this kind of comment since long ago. But I don't know why, after that I started to recall my past, when I was a boy, handsome, cuter than now, with recent style (yeah, even hairstyle. I still remember when all the children and my friends started to imitate my hairstyle, bross and mandarin.....).
And now? I ended up like this. Being a man of mess.......
This point brings back another memory, when my friends in junior high called me sissy, because I can't even play football or having any interest in both football and rock music. Well, bullying sure have its own effect, destructive effect.
From that moment, I only wish to be considered as a man by them. And thus, the sentence, Being a man rooted deep down in my mind. I started to form an ideal man is the one with all their mess, far from style, lad, not using any beauty product, rough, frank, rude, and all those stuffs.
It was the beginning of my transformation, where I swore not to touch any beauty cosmetics, such as facial foam, facial scrub, anti acne, lotion, hand body, and even perfume!!!!! For me, it was not a man's thing!!!!! No way man, I wanna be a man, not a sissy.
But then, the world paradigm shifted. People started to recognize a metrosexual lifestyle, and thus it became widespread culture! Men started to take care of their own body! Body care products for men are everywhere. And yet, I still in my own paradigm, hence I was quite different from others.
And this started all my torture...........................
You're Fired
Have you ever watched The Apprentice? If so, then those words might ring a bell. Yup, those are words that Donald Trump says in the end of every show. And if we see, he looked so relax in saying so. But believe me, it's not as easy as it seems. I experienced one event where I have to "fire" one of my manager in SPD Class. Believe me, I feel very uneasy to do it!!!!! Suck! This is life!
You know what, having great responsibilty is not as easy as you think! The burden..... Gosh!! What are those people thinking when they appointed me as the president of SPD class! Like I don't have enough problems??????????
You know what, having great responsibilty is not as easy as you think! The burden..... Gosh!! What are those people thinking when they appointed me as the president of SPD class! Like I don't have enough problems??????????
Thursday, February 08, 2007
Surat Buat Reza
Halo Za,
Ini surat dari Ali, temanmu yang tidak ada tetapi pada saat yang sama eksis juga di dalam dunia ini. Pasti kamu bingung, tapi jangan berhenti membaca ini, karena kamu akan menemukan penjelasan dari semua ini.
Aku tahu kamu menyayangiku, dan sudah cukup sering kau ungkapkan hal itu (walaupun aku selalu berusaha untuk tidak menanggapinya). Kau mencintai Ali Hermansyah, dan pada awal dulu, kau selalu berusaha menanyakan namaku yang sebenarnya. Dalam kejujuran, aku menjawab bahwa itulah namaku. Mungkin sekarang ada sedikit perasaan aneh di dalam benakmu, mengapa aku tega membohongimu! Tapi aku tidak bohong. Ali Hermansyah memang bukanlah diriku, tapi Ali Hermansyah jelas-jelas ada di dunia ini.
Bukan, ini bukanlah sebuah kasus dimana aku memiliki kepribadian ganda. Mungkin justru lebih tepat apabila hal ini disebut sebagai identitas ganda. Aku sadar bahwa aku menjadi Ali Hermansyah, sebuah fenomena yang tidak akan kaudapati pada penderita multiple personality lainnya. Kesadaran mereka senantiasa berganti setiap kali mereka menjadi pribadi yang lain. Ali Hermansyah adalah identitas yang kubentuk sendiri. Pada perkembangannya, identitas itu tumbuh lebih daripada apa yang sebelumnya aku bayangkan. Ali berubah menjadi orang lain, seolah memiliki jiwa sendiri.
Mungkin ini penjelasan paling masuk akal, kenapa aku tidak pernah menanggapi semua pesanmu yang mengatakan bahwa engkau menyayangi aku. Perlu kutekankan, Ali menyayangimu juga, Za! Andaikan Ali hidup dalam tubuhnya sendiri, ia akan menyayangimu dengan segenap jiwanya, dengan segenap hatinya. Takkan tertutup kemungkinan bahwa Ali mungkin akan menjadi kekasihmu. Mungkin pula Ali akan bersedia mempelajari bahasa Arab untuk menjadi lebih dekat dengan dirimu. Tapi itu tidakk terjadi...............
Kenapa? Karena sebagai Siddha, sebagai Chrys, aku tidak memiliki kapasitas untuk menyayangimu. Aku hanyalah seorang anak manusia yang tanpa sadar membuat identitas-identitas lain bagi diriku. Persona-persona lain yang ada di dalam tubuhku. Tapi persona-persona tersebut tumbuh di luar kendaliku, sehingga mereka tak ubahnya sebuah makhluk hidup sendiri.
Mengertilah dan maafkan aku, Za! Aku memang Ali, tapi di saat yang sama, aku juga bukan Ali. Ali adalah persona dalam diriku, yang memang mempunyai kapasitas untuk menyayangimu. Tapi dua persona yang lain tidak mempunyai kapasitas untuk menyayangimu!
Terakhir kali kita bertemu, kita berbicara mengenai tidak membohongi diri sendiri. Karena alasan itulah aku mengungkapkan apa yang sebenarnya ada. Karena kau menghargai kejujuran sebagai awal dari persahabatan, maka aku menuliskan ini bagimu.
Beberapa saat terakhir ini, muncul keinginan untuk membunuh diriku sendiri. Muncul keinginan untuk kembali menyatu menjadi sebuah persona utuh yang dulu pernah ada yang menjadi. Untuk itu, aku ingin membunuh diriku sendiri sebagai Ali, dan masih menyisakan dua persona lagi. Mohon maaf, karena keputusanku ini untuk membunuh Ali. Akan tetapi, keinginan untuk membunuh Ali itu sampai saat ini belum bisa terwujud, karena setiap kali ada kesempatan, Ali akan bertumbuh.
Maafkan aku, teman kheir. Kumohon kau masih bisa menerimaku, bukan sebagai Ali, tetapi sebagai seorang Siddha. Karena itulah tujuanku saat ini, untuk bisa kembali menjadi Siddha, walaupun Siddha akan senantiasa dibayangi oleh masa lalunya yang suram. Tapi, memang kita tidak akan pernah bisa melepaskan masa lalu. Tidak ada orang yang dapat maju tanpa merefleksikan apa yang sudah pernah terjadi.
Aku benar-benar minta maaf dan mohon doamu. Kuharap kau masih mau bersahabat denganku, sebagai seorang Siddha, bukan sebagai Ali. Wassalamualaikum wr.wb.
Chrysogonus Siddha Malilang
Ini surat dari Ali, temanmu yang tidak ada tetapi pada saat yang sama eksis juga di dalam dunia ini. Pasti kamu bingung, tapi jangan berhenti membaca ini, karena kamu akan menemukan penjelasan dari semua ini.
Aku tahu kamu menyayangiku, dan sudah cukup sering kau ungkapkan hal itu (walaupun aku selalu berusaha untuk tidak menanggapinya). Kau mencintai Ali Hermansyah, dan pada awal dulu, kau selalu berusaha menanyakan namaku yang sebenarnya. Dalam kejujuran, aku menjawab bahwa itulah namaku. Mungkin sekarang ada sedikit perasaan aneh di dalam benakmu, mengapa aku tega membohongimu! Tapi aku tidak bohong. Ali Hermansyah memang bukanlah diriku, tapi Ali Hermansyah jelas-jelas ada di dunia ini.
Bukan, ini bukanlah sebuah kasus dimana aku memiliki kepribadian ganda. Mungkin justru lebih tepat apabila hal ini disebut sebagai identitas ganda. Aku sadar bahwa aku menjadi Ali Hermansyah, sebuah fenomena yang tidak akan kaudapati pada penderita multiple personality lainnya. Kesadaran mereka senantiasa berganti setiap kali mereka menjadi pribadi yang lain. Ali Hermansyah adalah identitas yang kubentuk sendiri. Pada perkembangannya, identitas itu tumbuh lebih daripada apa yang sebelumnya aku bayangkan. Ali berubah menjadi orang lain, seolah memiliki jiwa sendiri.
Mungkin ini penjelasan paling masuk akal, kenapa aku tidak pernah menanggapi semua pesanmu yang mengatakan bahwa engkau menyayangi aku. Perlu kutekankan, Ali menyayangimu juga, Za! Andaikan Ali hidup dalam tubuhnya sendiri, ia akan menyayangimu dengan segenap jiwanya, dengan segenap hatinya. Takkan tertutup kemungkinan bahwa Ali mungkin akan menjadi kekasihmu. Mungkin pula Ali akan bersedia mempelajari bahasa Arab untuk menjadi lebih dekat dengan dirimu. Tapi itu tidakk terjadi...............
Kenapa? Karena sebagai Siddha, sebagai Chrys, aku tidak memiliki kapasitas untuk menyayangimu. Aku hanyalah seorang anak manusia yang tanpa sadar membuat identitas-identitas lain bagi diriku. Persona-persona lain yang ada di dalam tubuhku. Tapi persona-persona tersebut tumbuh di luar kendaliku, sehingga mereka tak ubahnya sebuah makhluk hidup sendiri.
Mengertilah dan maafkan aku, Za! Aku memang Ali, tapi di saat yang sama, aku juga bukan Ali. Ali adalah persona dalam diriku, yang memang mempunyai kapasitas untuk menyayangimu. Tapi dua persona yang lain tidak mempunyai kapasitas untuk menyayangimu!
Terakhir kali kita bertemu, kita berbicara mengenai tidak membohongi diri sendiri. Karena alasan itulah aku mengungkapkan apa yang sebenarnya ada. Karena kau menghargai kejujuran sebagai awal dari persahabatan, maka aku menuliskan ini bagimu.
Beberapa saat terakhir ini, muncul keinginan untuk membunuh diriku sendiri. Muncul keinginan untuk kembali menyatu menjadi sebuah persona utuh yang dulu pernah ada yang menjadi. Untuk itu, aku ingin membunuh diriku sendiri sebagai Ali, dan masih menyisakan dua persona lagi. Mohon maaf, karena keputusanku ini untuk membunuh Ali. Akan tetapi, keinginan untuk membunuh Ali itu sampai saat ini belum bisa terwujud, karena setiap kali ada kesempatan, Ali akan bertumbuh.
Maafkan aku, teman kheir. Kumohon kau masih bisa menerimaku, bukan sebagai Ali, tetapi sebagai seorang Siddha. Karena itulah tujuanku saat ini, untuk bisa kembali menjadi Siddha, walaupun Siddha akan senantiasa dibayangi oleh masa lalunya yang suram. Tapi, memang kita tidak akan pernah bisa melepaskan masa lalu. Tidak ada orang yang dapat maju tanpa merefleksikan apa yang sudah pernah terjadi.
Aku benar-benar minta maaf dan mohon doamu. Kuharap kau masih mau bersahabat denganku, sebagai seorang Siddha, bukan sebagai Ali. Wassalamualaikum wr.wb.
Chrysogonus Siddha Malilang
Splitted Personas
Splitted Personas
Just last night, when I stare at my ceiling (like I have no other works to do....), somehow I realize that what some people said is true, that I've been splitted up into three different personas.
Nope, it's not the case of multiple personality, for I had a full awareness when I was transformed into those different personas. I know and fully aware of what I did and what I said. Meaning, it's not different personalities, but it tends to be a different mask that I wear. But, the masks have grown more than I expected before, they outgrow me! And it seems that I don't have any control to those personas.
I realized, those personas were created by my ideal self and by a part of me who want to be different person. And thus, the persona of Franky was created on my elementary graduation. He survived only like a year, for I was aware that I didn't need him to be accepted by my community. I can be the same old Siddha, the 'prex' Siddha! Siddha (which actually should be pronounced Sidd-Hha according to Dr. Gigi)
As the time goes by, I changed the way I write my name, from Ch. into Chr. when I started wearing my glassess in Senior High. I did that on purpose, I admit. I thought that Ch Siddha had lived in denial for 4 years, by hiding the fact that he got that eye problem.
However I changed the way of writing, I didn't change much. They still called me Siddha, Doel, and even Siddhut (okay, I admit this as a proud name of mine!!!!!!). Problem started without I realized it when I decide to introduce myself as Chrys, which I meant only to be a different person with cooler name.... It worked! But without I realize it, the "Chrys" persona started to be influenced by my previous shaped persona, Franky. Chrys is like the ideal person that Siddha can't achieved!
The other persona, Ali, was created when I feel the need to conceal my real identity in certain subject matter (For some guys there, you know the reason!)
The last persona that I possessed (and thanks God it didn't grow, for I didn;t feel the urge to use that again) is Elang. And thankfully, I have left it behind.
Now, the problem emerge, when I started to get confuse with those three personas. Sometimes, there is this confusion, when I have to introduce myself. Be it Chrys? Siddha? Ali? And it seems that all of the personas have their own world!
Chrys for the post SMA' relation.....
Siddha for the pre College' relation
Ali for (should I stated it?? You know it by ytourself!).....
The main problem is, with my three splitted personality, I feel incomplete! It seems that some parts of my body (and soul) are not unified in a single being! Hiks! How should I emerge them once agaiN?????? It seems too late, and I can't undo those things!!!!
Just last night, when I stare at my ceiling (like I have no other works to do....), somehow I realize that what some people said is true, that I've been splitted up into three different personas.
Nope, it's not the case of multiple personality, for I had a full awareness when I was transformed into those different personas. I know and fully aware of what I did and what I said. Meaning, it's not different personalities, but it tends to be a different mask that I wear. But, the masks have grown more than I expected before, they outgrow me! And it seems that I don't have any control to those personas.
I realized, those personas were created by my ideal self and by a part of me who want to be different person. And thus, the persona of Franky was created on my elementary graduation. He survived only like a year, for I was aware that I didn't need him to be accepted by my community. I can be the same old Siddha, the 'prex' Siddha! Siddha (which actually should be pronounced Sidd-Hha according to Dr. Gigi)
As the time goes by, I changed the way I write my name, from Ch. into Chr. when I started wearing my glassess in Senior High. I did that on purpose, I admit. I thought that Ch Siddha had lived in denial for 4 years, by hiding the fact that he got that eye problem.
However I changed the way of writing, I didn't change much. They still called me Siddha, Doel, and even Siddhut (okay, I admit this as a proud name of mine!!!!!!). Problem started without I realized it when I decide to introduce myself as Chrys, which I meant only to be a different person with cooler name.... It worked! But without I realize it, the "Chrys" persona started to be influenced by my previous shaped persona, Franky. Chrys is like the ideal person that Siddha can't achieved!
The other persona, Ali, was created when I feel the need to conceal my real identity in certain subject matter (For some guys there, you know the reason!)
The last persona that I possessed (and thanks God it didn't grow, for I didn;t feel the urge to use that again) is Elang. And thankfully, I have left it behind.
Now, the problem emerge, when I started to get confuse with those three personas. Sometimes, there is this confusion, when I have to introduce myself. Be it Chrys? Siddha? Ali? And it seems that all of the personas have their own world!
Chrys for the post SMA' relation.....
Siddha for the pre College' relation
Ali for (should I stated it?? You know it by ytourself!).....
The main problem is, with my three splitted personality, I feel incomplete! It seems that some parts of my body (and soul) are not unified in a single being! Hiks! How should I emerge them once agaiN?????? It seems too late, and I can't undo those things!!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)