Thursday, December 21, 2006

Missing

The worst way to miss someone

is to be sitting right beside them

knowing you can't have them.....

hope you would understand...



Find time to realize

that there is one person

who means so much to you,

for you might wake up one morning

losing that person

whom you thought meant nothing to you...

Ini postingan dari blognya Vina.. And I really experience this one.. Reminds me of time when I realized my feeling just one day before that girl flew to Palembang..... And it keeps repeating!!!

Sunday, December 10, 2006

Tenang buanget........

Well, it happened just 3 days ago, when I finished doing my ESP group work. When I stepped out from the class, somebody called. And, i was so shocked, for it was the one who promised not to speak to me again.
The conversation started, and I loved to see his face when he pause for a while, and said, "It's been a while......" Wuakakakakakakakakaka!!!! So dramatic. Deep inside me, I was so relieved to see him like that.
He asked, "Do you know that it has cost me pain all this time?" I nodded. The truth is, I know it, and I was so relieved (again) to hear his confession.
For the whole conversation, I played ice statue (or, that's actually the way I am....), and keep calm. Surprisingly, he shocked to see me like that, and started to accuse me, "Stop playing mentaly superior!!!" Hey, hey, I'm not playing mentally superior. That's just the way I am!!!!!
When he asked me, "Did you know that I was so angry with you? When I see you, I want to punch you! When I see you laugh, I want to choke you to death!"
I nodded again. No expression.
"What do you feel? Don;t you want to do anything?" he asked.
"No, I don't care with your being angry. It's your bussiness. You have your own business, I have my own business!"
and the conversation went on (that's another story...)

The reason why I post this is that I found that my calmness can also be annoying for those speaking emotional to me. Calmness is surely to beat emotion.....

Friday, November 24, 2006

On Lysistrata

Hmm, akhirnya selesai juga seh play. Lysistrata!!!! !Setelah berjuang selama berbulan-bulan, semuanya terbayar dengan standing applause yang super meriah dari penonton... Rasanya memang plong banget seh!!! Lagian, pas adegan tarian, nyek-nyekan yang disambut dengan teriakan we want more, we want more!!!!
Cuma, ada sebuah rasa yang masih mengganjal.. Ndak tau kenapa, rasanya masih ndak puas banget seh.......... Ndak tau napa!!!

Thursday, November 09, 2006

Paradoks

Baru-baru ini aku dapet kiriman testi dari seorang sahabat lama, sahabat waktu SMP...... Seneng sih, akhirnya bisa ketemu lagi sama temen lama. Cuma, testi dari dia itu kaya’ mengusik pikiranku. Di testi itu, dia bilang kalau aku itu dulu tukang rayu, yang hobinya merayu cewek-cewek di jalan. Waktu pertama kali baca itu, aku langsung kebayang jaman-jaman SMP, waktu aku sama dia jalan bareng ke Gramedia (yang notabene deket dengan sekolahanku waktu itu) n ngelewatin Stece. Nah, di jalan itu kami selalu mbajul cewek-cewek stece. Hehehe, aneh kan? Anak SMP mbajul anak SMA..... Tapi, di situ asyiknya anak stece, karena mereka selalu membalas kami.... Bayangan kedua yang muncul adalah ramalan temen-temen SMP waktu itu tentang aku. Mereka waktu itu meramal kalau pas reuni yang akan datang (dimana kami semua sudah bekerja), aku bakal dateng ke reuni dengan istri dan 13 anak, saking hobinya ngerayu cewek.... Hwahahahahahaha!!! Jadi ngakak! Dari kedua memori itu, mau nggak mau aku jadi berpikir, membandingkan waktu itu dengan waktu ini. Dan apa yang terjadi?? Jauh dari waktu itu kan.. Aku malah berubah drastis jadi orang yang sangat tertutup, dan bahkan takut untuk menjalin sebuah hubungan. Gimana mau punya anak 13, wong malah punya pikiran kalau bakal jadi perjaka seumur hidup kok..... Alias ora payu! Kadang, hidup kita itu memang merupakan sebuah paradoks yang luar biasa besar yah!!!!

The porcupine syndrome

The porcupine syndrome, istilah yang aku dapat dari Shin Seiki Evangelion. Keadaan yang dialami oleh sang tokoh utama, Shinji Ikari. Dalam cerita itu, ia senantiasa menutup dirinya, dan oleh pembimbingnya, Misato, hal itu diidentikkan dengan seekor landak yang kesepian. Si landak itu menutup hatinya sendiri, menyendiri dan tidak ingin mendekati siapapun, karena ia takut akan duri di tubuhnya. Landak itu takut untuk berteman, karena ia menyadari bahwa duri di tubuhnya itu akan melukai semua yang datang mendekat kepadanya. Apabila ia nanti melukai makhluk tersebut, yang terluka itu akan menjauhinya, dan itu akan membuatnya merasa sangat terasing.

Jadi? Jadi, di dalam perumpamaan ini, si landak sebenarnya berpikir jauh di dalam hatinya, bahwa apabila ia mendekati orang lain, ia akan menyakitinya, dan dengan demikian ia akan tersakiti sendiri.

Kenapa tiba-tiba aku tertarik untuk membicarakan masalah ini? Karena aku sebenarnya merasakan hal yang sama. Ada ketakutan jauh di dalam lubuk hatiku untuk menjalin sebuah hubungan, entah itu pertemanan atau hubungan yang lebih. Aku takut untuk merasa terlalu dekat dengan mereka, dan perpisahan, entah karena sebab apapun, akan menorehkan parut di dalam hatiku.

Aku sudah kehilangan banyak, jauh di masa laluku. Aku tidak ingin kehilangan apapun lagi (and recently, I lost one of my best friend.........). Mungkin, hal dan pikiran seperti itulah yang membentuk diriku menjadi seorang yang tertutup seperti sekarang ini.

Aku sudah capek kehilangan, dan mungkin cara untuk tidak pernah kehilangan lagi adalah untuk tidak pernah memiliki. Mungkin...................