Monday, November 10, 2014

Days of Cursing

Sometimes I cannot help thinking that in the race of love and romance, I will always finish last.

Maybe it's my confidence issue, maybe it's the baggage I've carried since my childhood, or maybe it's just my terrible luck. I don't know.....

Is this the payback for all my academic opportunities? I used to think that it's okay to be devoid of love as long as I can advance in academia; but what I meant was me being unable to feel love within. The love deprivation that I have now is just too torturing, constantly being in a roller-coaster of emotion; of love and hatred; of adrenaline rush and tear shedding.

Back in the past, I was thinking of swearing off love and relationship. Yet Big Boss is such a big fat joker, He kept making me falling in love, getting my hope up high, and suddenly... BAMM! I was tossed to the ground from such height.

Maybe once is okay,  maybe twice is still tolerable, but repeatedly? REPEATEDLY? Will I even have enough energy to pick up my pieces every time?

I don't know. Even this writing is all over the place, such an incoherent composition.

I hate your jokes, dear Big Boss!!!!

Thursday, October 16, 2014

Surat bagi diriku sendiri, 15 tahun yang lalu

Halo le,

Ini aku, kamu sendiri lima belas tahun yang akan datang. Aku membayangkan (dan mengingat) kamu pasti masih memakai baju seragam putih biru itu. Rasanya masih segar dalam ingatan, kemeja putih yang sudah berubah warna kekuning-kuningan dan celana pendek biru yang jahitan di bagian kanannya sudah sedikit robek. Iya, aku masih ingat celana seragam yang terlalu pendek itu, yang membuatmu banyak dihina orang-orang karena dianggap memamerkan keseksian paha. Padahal apanya sih yang seksi? Paha kecil kurus kering milik seorang anak kelas dua SMP? Seksi dari mana?

Dalam bayanganku, kau saat ini pasti sedang berjalan di jalan Juwadi, bagian belakang SMP 5 yang berdebu itu. Rambut ikalmu berantakan, kepala menunduk, dan kedua tangan menggenggam erat tas ranselmu. Masih kuingat, terlalu segar dalam ingatan dan takkan bisa terlupa. Kalau tidak salah ingat, saat itu kau menyenandungkan perlahan sebuah lagu yang kau tulis sendiri liriknya, lagu dengan irama yang tidak jelas juntrungannya. Tapi apa peduli kita pada kualitas melodinya? Kita hanya butuh berteriak, mengeluarkan apa yang ada di hati. “I’m in trouble, I have a problem, please my Lord help me, give me a way!” Kira-kira begitu kan bunyi refren lagu itu?

Kau saat itu sedang bertanya-tanya, beranikah dirimu melompat ke tengah jalan di saat sebuah bus kota melintas. Beranikah kau mengakhiri hidupmu sendiri? Dan masih banyak sekali alternatif bunuh diri lain yang berkelebat dalam otakmu. Aku tahu, pasti banyak orang yang membaca ini akan berpikir bahwa kau tak lebih dari seorang pengecut yang tak berani menghadapi kerasnya hidup. Dan aku ingat, kau juga pernah berpikir seperti itu, bahwa kau tak lebih dari seorang pengecut tanpa keberanian.

Seandainya aku bisa berada di sana, bisa berada di saat itu, aku pasti akan menepuk-nepuk pundakmu. Hanya itu yang kau inginkan, hanya itu yang kau butuhkan. Seseorang yang tahu bagaimana rasanya menjadi seorang yang tidak diharapkan, yang selalu kenyang dengan hinaan sehari-hari. Kau butuh menangis keras, sesuatu yang tidak pernah berani kau lakukan di saat itu. Dengan hinaan “banci” yang disematkan karena kau tidak bermain bola, tidak mendengarkan musik-musik mainstream di saat itu, menangis menurutmu hanya akan membuatmu menjadi lebih tidak lelaki. Tapi kau butuh melakukannya, kau butuh menangis dan mendengar kata-kata, “Semuanya akan baik-baik saja di masa depan!”

Aku ingin sekali bisa memberikanmu kata-kata itu, menjanjikan bahwa semua akan baik-baik saja, menunjukkan bahwa akhirnya kau akan bisa keluar dari stigma ‘berbeda’ dan hidup seperti orang-orang yang lain. Tapi kenyataan yang ada tidak seperti itu, doel.

Sampai kapanpun, kamu akan selalu berbeda. Kamu itu unik, doel, berbeda dengan teman-temanmu yang lain. Bahkan sekarang, lima belas tahun setelah tahun-tahun mengerikan itu, kamu masih berbeda dengan mereka semua. Tapi semua yang kamu alami itu akan membuatmu lebih kuat, membuatmu mampu bertahan dalam banyak hal. Jangan menyerah, karena aku tahu kamu akan bertahan (kalau tidak, bagaimana mungkin surat ini datang padamu?).

Bully tidak pernah hilang, le. Mereka akan selalu ada, selalu menghadangmu di depan. Mereka hanya berubah bentuk, mereka hanya berubah rupa dan suara. Tapi kamu sudah pernah mengalaminya, sudah ditempa dengan kuat untuk melaluinya. Akan tiba waktunya ketika kamu menyadari bahwa seharusnya kamulah yang harus mengasihani mereka; atas kelemahan mereka.

Kalau meminjam kata-kata Yesus di Alkitab (jangan khawatir, doel, kamu tidak akan tumbuh menjadi manusia super religius kok!), semakin bagus anggur yang dihasilkan, semakin keras pula tekanan yang diberikan. Tekanan-tekanan yang diberikan padamu justru membuatmu bekerja semakin keras, karena ingin membuktikan dirimu sendiri.

Aku ingat bahwa kamu pernah (atau mungkin sedang) mencoba menjadi bagian dari mereka. Kamu bangun di pagi-pagi buta demi menonton pertandingan demi pertandingan Fiorentia, kamu memelototi semua berita olahraga dan sepak bola di koran setiap pagi, bahkan berusaha menghafal semua nama-nama pemain bola yang asing itu dari majalah Liga Italia dan Liga Inggris. Semua hanya demi bisa bercakap-cakap dengan teman-teman sekelasmu kan? Padahal kamu tidak pernah benar-benar menikmatinya. Hanya membuat batinmu tersiksa. Atau ketika kamu membeli sebuah bola bersama-sama dengan empat empat teman yang lain, memaksa diri bermain bola (walaupun sebenarnya kamu hanya ingin duduk di kelas dan lanjut membaca Animorphs), bahkan ikut tim kelas dan berdiri di lapangan menjadi bek (yang bahkan kamu sendiri tidak tahu harus melakukan apa).

Jangan khawatir atas kegagalanmu masuk dan ‘berubah’. Justru kalau kamu berubah, selalu berubah, semua tidak akan pernah selesai. Tuntutan sosial dan masyarakat selalu berganti, dan kamu hanya akan kehilangan dirimu sendiri. Jangan khawatir, pada waktunya kamu justru akan melihat betapa mereka sesungguhnya adalah korban konstruksi sosial, korban-korban yang terperangkap dan tidak bisa keluar dari tuntutan-tuntutan yang tidak masuk akal. Di saat itulah, rasa kasihan akan membuncah dan sedikit banyak kau akan lega atas semua pencerahanmu.

Yang kuat, le! Pada saatnya, kamu akan membantu orang-orang sepertimu, seperti kita. Tanpa pengalaman ini, kamu tidak akan bisa memahami mereka. Dan kita tahu, yang  mereka butuhkan hanya dipahami, hanya tempat yang aman. Kita membantu dan pada saat yang sama kita juga dibantu.

SMP cuma tiga tahun kok. Setelah itu, masa SMA tidak akan seburuk yang kamu bayangkan. Kamu akan bertemu banyak teman-teman yang membantumu melihat dunia. Masa SMA-mu akan cukup berbeda, tidak seperti yang kau baca dan tonton. Lepas dari tiga tahun di SMA, kamu akan menemukan banyak teman dan sahabat –orang-orang yang tidak akan mempermasalahkan keunikan-keunikan dirimu.


Doel, kamu akan bisa melihat dunia lebih banyak daripada teman-temanmu itu. Kamu akan pergi jauh, memperoleh perspektif baru, dan berkelana. Surat ini pun tidak kutulis dari Indonesia, doel! Bukan kaya harta, tahta, atau wanita, kamu akan menemukan kebebasan yang lebih berharga dari semua itu. Dunia tidak hanya selebar SMP 5 atau Kotabaru, dunia tidak hanya seluas kota Yogya, atau bahkan Indonesia. Bermimpilah, karena mimpi-mimpimu itu yang akan menjadi sayapmu, mengepak jauh pergi. Saat kau melayang, akan kau sadari betapa orang-orang itu tidak lebih besar dari semut hitam…….

Wednesday, October 08, 2014

Lamunan Pagi Hari

Pagi ini, playlist musik yang biasa menemani perjalananku ke kampus mengkhianatiku. Alih-alih mencerahkan awal hari, ia berturut-turut memainkan lagu-lagu yang sempat menjadi musik pengiring patah hati di masa lalu.

Lagu pertama, ‘Heart Vacancy’ dari The Wanted mengingatkanku pada masa-masa patah hatiku yang pertama, pada sebuah musim dingin jauh di Inggris sana. Dalam kesendirian musim dingin, ketika hampir semua teman asrama pulang ke rumah mereka masing-masing, lagu ini seolah menjadi sebuah lorong dan jalan keluar bagi semua emosi negatif. Seorang sahabat dari Indonesia, seorang penyiar radio pada masa itu, mengirimkan lagu ini setelah mendengar cerita pengalaman gagalnya hubungan pertamaku. Tak disangka tak dinyana, aku menjadi sangat terikat pada melodi dan lirik yang ada di dalamnya.

Kupikir cukup satu lagu ini saja yang akan muncul di playlist. Entah kenapa, telepon genggamku seolah ingin melemparku kembali ke dalam gelapnya masa lalu dan memutar ‘Payphone’ dari Maroon 5. Sial, pikirku. Lagu ini kembali membawaku ke dalam kemarahan besar pada kegagalan keduaku. Marah, murka, dan kecewa. Mungkin itu tiga kata yang cocok menggambarkan apa yang kualami pada saat itu.

Kurang ajar, pikirku! Kenapa aku diberondong luapan-luapan emosi yang ingin kulupakan di pagi hari? Lagu selanjutnya yang dimainkan memang sudah tidak lagi berhubungan dengan masa lalu, tapi benak dan pikirku sudah terlanjur terperangkap dalam lubang hitam kenangan. Sebuah pikiran lalu melayang dan muncul, lagu apa lagi yang mungkin muncul? Bodoh bukan? Bukannya mencoba untuk melangkah ke hari yang lebih cerah, aku justru memperangkap diri sendiri dengan berkubang di dalam lumpur memori.

Bus-ku saat itu sedang melintas di dekat Galaxy Macau. Di sana terlihat sebuah pagar sekolah, Guang Da Middle School. Otakku yang terlalu banyak berpikir langsung terpusat pada salah satu karakter cina yang ada di sana, (Guang). Sebuah karakter biasa yang berarti cahaya. Tapi otak ini langsung teringat dengan nama seorang penyanyi, Guang Liang. Di waktu itulah, sebuah judul lagu dari Guang Liang muncul dalam benak, ‘Yue Ding’.

Beginilah nasib orang dengan benak yang tak pernah berhenti berpikir. Sedikit saja pemicu terlihat, sang benak akan terus berlari tak tentu arah mencari dan menyambar, menyulut api bagi rangkaian-rangkaian peristiwa dan pikiran. Lagu itu tidak pernah punya makna bagiku saat ia baru saja muncul. Baru di tahun 2009, lagu itu menempel dalam benak.

‘Kampret’, sebut saja begitu, adalah seseorang yang sempat menempati kursi khusus dalam hatiku di tahun itu. Kami pernah berangan-angan bersama akan masa depan yang mungkin terjadi, yang mungkin dapat kami jalani berdua. Tetapi, sebuah halangan yang menghadang di depan kami saat itu adalah mimpi kami berdua untuk dapat melanjutkan studi ke luar negeri, Salah satu kekhawatiran yang ia ungkapkan adalah bahwa jarak dan waktu akan memisahkan kami pada saat studi lanjut. Inilah bagian dimana lagu ‘Yue Ding’  menjadi sangat berkesan.

Lagu itu bercerita mengenai sepasang kekasih yang berpisah dan berjanji untuk bertemu lagi tiga tahun kemudian. Setidaknya, salah satu dari pasangan itu masih setia menunggu, masih mengingat janjinya, dan bergeming di tempat yang sama. Studi lanjut kami diprediksikan selama dua tahun, setidaknya. Apakah kami sanggup menjalani perpisahan selama dua tahun? Aku selalu meyakinkan diriku dan dirinya dengan lagu itu, bahwa ada orang yang sanggup menjalani semuanya.

Takdir ternyata berkata lain. Dalam hitungan bulan, banyak sekali yang terjadi. Puncak semuanya terjadi ketika si ‘kampret’ menghilang, pindah dari Yogya tanpa kata pamit. Beberapa kali upaya untuk menyambung komunikasi kembali selalu gagal. Aku akhirnya mendapatkan jalan untuk melanjutkan studi ke Inggris, sementara ia (setahun setelahku) mendapatkan kesempatan melanjutkan studinya ke Belanda.

Tak dinyana, jalan kami bertemu lagi di tahun 2013. Secara tidak sengaja, kami berdua bertemu di sebuah warung tegal di Jakarta. Siapa yang pernah menyangka dan berpikir bahwa pertemuan itu akan terjadi di sebuah kota lain, di sebuah warung kecil yang tidak terkenal. Entah mengapa, lirik dari lagu ‘Yue Ding’ itu benar-benar terjadi. Setelah tiga tahun, kami kembali bertemu dan menyelesaikan semuanya.

Penyelesaian? Di masa lalu, perpisahan kami tidak ditandai dengan kata-kata apapun, tidak ada kata pamit atau selesai. Semua hanya berputar dalam benak saja. Tahu sama tahu, Tetapi tiga tahun berselang, semua akhirnya benar-benar jelas. Semua kemarahan, semua perasaan sayang, dan semua mimpi yang pernah kami pendam berdua akhirnya benar-benar disegel dengan sebuah kata ‘TAMAT’.

Lamunanku berakhir ketika speaker di dalam bus berteriak, menandakan pemberhentianku sudah dekat. Lamunan dan  permenungan yang cukup panjang dari sebuah otak yang cukup ‘random’.


Ah, lagu ajaib itu… Lagu yang benar-benar terjadi dalam hidup…

Friday, November 01, 2013

Freirean Reading of Zombie

I am found guilty of watching tons of zombie movies, boththe crappy ones and the magnificent ones. It’s true, the repetition they portrayed is often cheesy and as uncreative as it can be. Furthermore, the zombieque culture becomes so huge and widespread that these undeads lost their charms. But why do I still watch (andhunt) those movies? Frankly speaking, these brain-eating brainless creatures brought about a sense of reminisce and nostalgic feeling for me.

It was started with the routine geek pajama parties I often held in my house with fellow geeks. Well, these chaps would certainly refuse the ‘geek’ label I used in this writing. Yet, what would you call four chaps having sleepovers for days only to play some video games? The year was 2001,back when the first Sony Play Station was still ruling and winning the third console war.
Some franchises stood out among the others, some titles flunked dramatically. One of the standing out franchises was Bio Hazard / Resident Evil. It became our challenge night by night, how to finish this thrilling silent game with sound effects amplified through gigantic room speaker in the darkness where the only light we had came from the TV screen and the green PSX LED. Ah, what a moment.

What is so special from the hordes of undead corpse flocking the world in search of fresh brains? They are less cool than their blood-sucking vampiric cousins, the perpetually seductive witches or the ever-furry werewolf neighbours. I don’t know. I honestly don’t know. The market was also saturated already with constant exposure to these rotting bodies.

Yet the key to understand zombies are the concept of bodies through body culture studies perspective. Body is defined by Maurice Merleau-Ponty (1968) as Flesh, the being, and the appearance of oneself. This conceptual flesh puts body as an integral part of the mind, consequently in unity with main drive of any action. The integration with a force of will thus placed body in the position of a subject, as meaning, and as embodied existence.

Butler (in Bodies ThatMatter, 1993) argued that body acts or performs its own subjectivity,devoid of any influence from constructed reality and expectation from surrounding society. The seclusion of subjectivity from any expectation thus signified ‘body’ as the core identity; initial identity. Furthermore, body is theorised as “matter”, so that the cultural norms that constitute its identity can be exposed, examined, and critique. This is the state of nakedness, a complete strip off where self identity is broken down into Democritus’ concept of atom,the state where further division is no longer possible.

Thus, the common concept of basic identity is the result of negotiation / dialogue between the materiality of body and the materiality of knowledge and language. Within this framework, each aspect is materialised;manifested into solid matter. The solidification of two parties creates real spatial context of dialogue between them. Taking the nature of knowledge and language as being able to be controlled by any person, the dialogal practice taking place here follows an ideal Bakhtinian dialogism. A horizontal power structure wherein no party dominates the other operates here, creating an ideal negotiation and neutral adjustment.

Different situation may happen when culture is included here, as the nature of culture sometimes forces any person to bestow before it,the conquering nature over any individual living within its authority. An inclusion of culture in the dialogal practice would turn the natural dialogue into cyborgization. Following Donna Haraway’s (1997) concept of post-humanism,culture and social norms posses the machinization ability; operates as a gigantic mother brain penetrating the skin of the fleshed out body and replacing the natural parts with mechanical prosthetic. However, in doing so,not all of the flesh parts are taken out, creating power struggle between the nature and the machine. 

If we are taking an analogy of natural connection between flesh and knowledge and language into a man taking material and sew them into clothes, we can see that the skin still acts as a border between these two parties. Even though the unity between body and clothing can be seen, body will perform its own subjectivity to counter willful construction, in turn creates a clear distinction of constructional aspects. The difference here is the skin as a liminal field, the meeting point of body and construction. However, in the cyborgization, the skin is violated and instead being replaced by mechanical layers. The loss of liminal quality in the skin renders the construction aspects indistinguishable from the flesh.

The term power struggle consequently brings about the shift from horizontal dialogue into vertical dialogue; where one side reclaimed dominance over the others; Foucauldian scheme of war and oppression. Thestruggle between personal “body” and machinization

What about zombie? Using body cultural studies, we can scrutinise the implicit meaning behind dead ‘body’; dead ‘flesh’. What does it mean then? If (living) body can perform its own subjectivity, then zombie cannot perform their own subjectivity. Even though they are living, their freewill is taken from them. Without subjectivity, their main driving force, their main existence, and their very core are robbed. Interestingly, these zombies are still wearing their clothes; which leads into a reading that their knowledge and language are still there. Yet, without their subjectivities, knowledge and languages cannot be used (which is manifested in their lack of intelligence and lack of speech). In other words, this is the manifestation of closed society, a mutism in flesh (pun intended).

Another question sprung up, what are the main causes of this zombie plague? Some initial movies resorted to the explanation of Haitian black magic, yet the newest movies vaguely referred to viral infection. Whether we take side on the black magic (mythical) or biochemical weapon (mechanical cyborgization?), the zombies are all acting the same; following what the source‘programmed’/ ‘dictated’ them to do. Interestingly, this source successfully killed the body and reanimated them as some kind of slaves.

Similarity in this ‘society’/’hordes’ indicates soulless society, brainwashed into throwing away their very essence of identity and uniqueness and rendering their ability to think (critically) useless. According to Freirean perspective, this is one of the characteristic of a closed society led by a dictator / tyrant. In Education for Critical Consciousness, Paulo Freire (1973) described massification as a characteristic of a closed society imposed by the leader to avoid any coup d’etat. Within this massification process, any citizen should not be given any opportunity to develop critical thinking –similar to zombies inability to thinkand speak – and is expected to behave uniformly. This massification will create‘obedient’ domesticated civilians, separated from total project and consequently being dehumanised.

Before the perspective of this closed society, social norms are changed. Freirean concept of sui generis democracy explains that popular silence (mutism) and inaction is synonymous with healthy society. Thus, people who try to bring about critical thinking will be seen as ‘subversive’ and ‘public enemy’. This branding as a public enemy is what caused them to be crushed under people power; manifested as the attack of zombie hordes towards the protagonists.

Further similarity between zombie apocalypse and mutism also lies in the trigger to the zombie attack. In most movies, the zombies are attracted by any sound and sudden movement. Any voice breaking the silence of the zombieland will be treated as a threat to be taken care of; triggering flock attack. What would happen then after the attack? The victim will either be dead or turned into zombie; both results in mutism and submersion.

Wednesday, October 23, 2013

Unheimlich

Unheimlich
adalah ikan yang dikeluarkan dari air
berkelebat-kelebit panik mencari napas
di penghujung hayatnya
mencoba mengulur waktu
walau bimbang
mengingat belaian sungai
atau mempersiapkan diri menuju ajal
serta ragu
antara maju penuh sakit
atau mundur yang tak mungkin
atau bertahan di antara
dan tak berdaya
sama seperti saat ia
ada di batas
hidup dan mati
saat dilahirkan